WILAYAH KEKUASAAN MAJAPAHIT

NANSARUNAI USAK JAWA
(Adat dan budaya Nansarunai yang dirusak orang Jawa)

Kerajaan Majapahit seperti yang kita ketahui sangat berambisi menyatukan Nusantara, di mana salah satunya adalah pulau Borneo.

Nansarunai Usak Jawa adalah sastra lisan dalam bahasa Dayak Maanyan, yang mengisahkan Kerajaan Nansarunai telah dirusak orang Jawa (Majapahit). Bait-bait dua syair, berisi sejarah leluhur ini jadi pegangan sejumlah sejarawan dalam menafsirkan penyerangan via ekspedisi militer yang dilancarkan Kerajaan Majapahit. 

Sejarawan Dayak yang juga dosen senior Sekolah Tinggi Teologi (STT) GKE Banjarmasin, Fridolin Ukur, 1977, dalam risetnya ia meyakini Kerajaan Nansurani adalah pemerintahan monarki yang mempersatukan Dayak Maanyan di Kalimantan, khususnya Kalsel dan Kalteng, yang berpusat di Kabupaten Tabalong. Walau masih kontroversi, Ukur yakin berdirinya Kerajaan Nansarunai terjadi pada 1309 Masehi, saat Raden Japutra Layar dinobatkan menjadi raja. Lalu, Kerajaan Nansarunai lenyap usai ditaklukkan armada tentara yang dikirim Majapahit pada 1389 Masehi.

Sedikitnya ada tiga ekspedisi militer dilakoni Kerajaan Majapahit yang berpusat di Trowulan, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur. Hasil riset Fridolin Ukur ini juga dijadikan rujukan peneliti sejarah FISIP Universitas Lambung Mangkurat (ULM) Apriansyah.

Menurut Apriansyah, penyerangan pertama ke Kalimantan, termasuk Kalsel terjadi pada 1309 Masehi atau beberapa tahun setelahnya, di masa Raja II Majapahit bernama Jayanegara (putera Raden Wijaya) yang berkuasa 1309-1328 Masehi.

Begitu eksepidisi militer ini gagal, menurut Apriansyah, Kerajaan Majapahit belum puas dengan hasil itu. Di masa Raja III Majapahit Sri Tribhuwanottunggadewi yang berkuasa pada 1328-1350 Masehi, lewat Maha Patih Gajah Mada yang terkenal dengan Sumpah Palapa, kembali menyerang Nansarunai antara 1339-1341 Masehi. “Serangan kedua ini juga berhasil ditangkis tentara Nansarunai, karena mendapat perlawanan hebat dari warga Dayak Maanyan,” cetusnya.

Baru, pada penetrasi atau penyerangan III, yang terjadi pada 1350-1389 Masehi, di masa Raja IV Majapahit bernama Sri Hayam Wuruk atau Rajasanagara yang berkuasa pada 1350-1389, dengan patih Gajah Mada, terbilang sukses.

Dari hasil riset Tajudin Noor Ganie (2009), Apriansyah mengungkapkan, selama ini dalam literatur yang ditulis sejarawan Belanda, termasuk JJ Ras atau Hans Ras, ahli filologi asal Universitas Leiden, dalam buku terkenalnya, Hikayat Banjar, menyebutkan adanya misi perdagangan yang dimainkan Empu Jatmika atau Ampu Jatmika, sembari mencari tanah berbau harum bernama Pulau Hujung Tanah.

Dosen senior ilmu pemerintahan FISIP ULM ini juga mengutip referensi dari buku Paul Michel Munoz berjudul ‘Kerajaan-Kerajaan Awal Kepulauan Indonesia dan Semenanjung Melayu (2009)’. Di buku itu dijelaskan bahwa Empu Djatmaka alias Ampu Jatmika yang mendirikan Kerajaan Negara Dipa pada 1387 Masehi, berasal dari Majapahit.

Dalam Hikayat Banjar, Ampu Jatmika dikabarkan membawa serta pengawal setianya, seperti penasihat militer Aria Megatsari, dan panglima perang Tumenggung Tatah Jiwa, serta sang menteri Wiramartas, ditambah para punakawan seperti Patih Baras, Patih Basi, Patih Luhu, dan Patih Dulu, serta pengawalnya, Sang Panimba Segara, Sang Pembelah Batung, Sang Jampang Sasak, serta Sang Pengeruntung ‘Garuntung’ Manau.

Nah, menariknya riset Kusmartono dan Widianto (1998), yang bersandar pada uji sampel arang tahun 1996, di Amuntai, khususnya di Candi Agung, terdapat Tambak Wasi yang jadi wadah pembakaran mayat para prajurit Majapahit, korban perang Nansarunai I, diprediksi pada April 1358.

Menurut Apriansyah, pada penyerangan pertama dan kedua, banyak tentara Majapahit yang tak pulang ke Jawa. Mereka kawin dengan sisa-sisa etnis Melayu-Sriwijaya, dan Dayak Maanyan, yang merupakan nenek moyang orang-orang Amuntai, Alabio, dan Nagara.

#historitual #sejarah #jawa #dayak #maanyan #nansarunai

Komentar