INVASI TUBAN & AROSBAYA

BANJAR MENGHALAU INVASI TUBAN & AROSBAYA


Pada tahun 1615 M, seiring menurunnya pengaruh Kesultanan Demak di nusantara, raja-raja yang memerintah Tuban (Jawa bagian timur) dan Arosbaya (pulau Madura) mencoba menaklukan Kesultanan Banjar. Kedua kerajaan ini ingin menggantikan dominasi Demak dan menuntut Kesultanan Banjar untuk tunduk kepada mereka.

Kondisi bermusuhan dan serangan dari raja-raja tersebut berlangsung selama beberapa tahun. Menurut salah satu laporan Belanda, Kesultanan Banjar saat itu diperintah oleh Sultan Mustain Billah yang memiliki 50.000 lebih tentara. Dengan kekuatan sebanyak itu serangan-serangan dari Tuban dan Arosbaya berhasil dipatahkan. Upaya penaklukan Kesultanan Banjar gagal dilakukan oleh kedua kerajaan tersebut, malah kemudian kedua kerajaan itu pada tahun 1619 ditaklukkan oleh Sultan Agung dari Kerajaan Mataram.

Kesultanan Banjar saat itu berpusat di Karang Intan Martapura. Keberhasilan menahan serangan dari pulau seberang dan besarnya kekuatan militer inilah yang diyakini menjadikan kerajaan di sepanjang timur Kalimantan (Pasir, Berau, Kutai) dan sepanjang barat Kalimantan (Landak, Sukadana, Mempawah, Sambas) mengakui Pertuanan atas Kesultanan Banjar. Karena itulah Kesultanan Banjar di masa Sultan Mustain Billah bisa digolongkan berbentuk kekaisaran karena membawahi beberapa negeri yang berbentuk kerajaan/kesultanan.

sumber: 
1) J.K.J.de Jonge, dalam Hermanus Johannes de Graaf, Puncak kekuasaan Mataram: politik ekspansi Sultan Agung, Grafitipers, 1986 H.J.de Graaf
2) Suriadi, Ahmad (2014) Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari dalam Dinamika Politik Kerajaan Banjar Abad XIX. Laporan Penelitian. Pusat Penelitian dan penerbitan LP2M IAIN Antasari, Banjarmasin.

Komentar